Keesokan harinya, seluruh pemuda Soppeng berkumpul di balai desa. Saat kepala desa sedang memberikan instruksi pencarian, terdengarlah tangisan seorang perempuan. Ia mendekati kerumunan dan berbicara dengan terisak-isak. Ternyata, bayi perempuannya telah hilang pada malam sebelumnya.
Kebingungan melanda para penduduk dan kepala desa. Mengapa peristiwa ini terjadi berturut-turut tanpa alasan yang jelas? Apa benar, Nenek Pakande telah datang ke Kabupaten Soppeng? Tiba-tiba, suara lantang terdengar dari kejauhan.
Suara itu berasal dari seorang pemuda bernama La Beddu yang meyakinkan warga bahwa peristiwa hilangnya anak-anak memang ulah Nenek Pakande. Kepala desa pun bertanya kepada La Beddu tentang langkah yang perlu dilakukan untuk membawa anak-anak yang hilang itu kembali ke orang tua mereka.
La Beddu menjelaskan bahwa hampir mustahil bagi manusia biasa untuk melawan Nenek Pakande. Sang siluman hanya takut kepada seorang sosok bernama Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Ia adalah raksasa baik hati dengan tubuh yang sangat besar—dan seperti Nenek Pakande—juga gemar menyantap manusia.
Bahaya yang Mengintai
Ia mendengar suara tangisan bayi yang bersahutan dari deretan rumah-rumah panggung tempat penduduk Soppeng bermukim. Tanpa pikir panjang, ia segera mencari tempat bernaung. Akhirnya, ia menemukan sebuah gua untuk bersembunyi sambil menunggu malam berikutnya tiba.
Sebenarnya, kabar tentang Nenek Pakande memang sudah sampai ke telinga penduduk Soppeng. Tak heran, sang siluman telah menjelajahi desa lain untuk mencari mangsa favoritnya. Namun, siapa sangka bahaya serupa kini juga mengancam mereka?
Ketika fajar menyingsing, penduduk Soppeng bergegas memulai aktivitas sehari-hari mereka. Mulai dari bercocok tanam, berdagang, hingga menempa besi. Sejak lama, Kabupaten Soppeng dikenal sebagai desa yang damai, dengan warga yang hidup rukun dan saling bahu-membahu.
Seiring berjalannya hari, senja mulai tiba. Penduduk Soppeng berbondong-bondong pulang ke rumah untuk beristirahat. Namun, ternyata masih ada sepasang kakak-adik yang tengah bermain kelereng di pekarangan rumah. Sang ibu yang cemas, berkali-kali memanggil mereka untuk segera masuk ke dalam rumah.
Terlalu asyik bermain, mereka tak menghiraukan panggilan sang ibu. Benar saja, sepasang mata mengintai mereka dari balik pekarangan. Tak lama kemudian, si nenek pun menerjang dan menyergap mereka, membawa keduanya kabur tanpa diketahui siapa pun.
Benar saja, sepasang mata mengintai mereka dari balik pekarangan.
Ketika kembali ke pekarangan, sang ibu terperanjat karena kedua anaknya hilang dari pandangan. Ia pun berteriak histeris untuk meminta pertolongan. Empat orang tetangga bergegas menghampiri sang ibu yang menangis kebingungan. Mereka kemudian menawarkan pertolongan untuk mencari kakak beradik tersebut hingga ke pelosok hutan.
Pencarian dilakukan sepanjang malam, namun kakak beradik tersebut tak kunjung ditemukan. Putus asa, keempat pemuda itu melaporkan kejadiannya kepada Kepala Desa Kabupaten Soppeng. Ia memerintahkan mereka untuk mengumpulkan penduduk desa lainnya sebelum melanjutkan pencarian di Balai Desa Soppeng.